Seumur Hidup Mengejar Pahala

Memang ini kan yang di kejar……………???  karena berharap masuk sorga, bisa di lihat orang banyak, biar dianggap, atau ada kepentingan terselubung lainnya…

Tapi tanpa disadari bahwa semakin kita mengumpulkan pahala, semakin kita mengejarnya…semakin kita justru malah masuk neraka, bahkan justru kadang kita malah neraka kita anggap sebagai sorga……

Ajaran agama harusnya membuat kita semakin lebih berkembang dalam hal berpikir, bukan justru malah membelenggu kita dalam berpola pikir, karena suatu ajaran itu sifatnya “netral” sebagai fungsi penyaring, penyeimbang bukan malah diposisikan sebagai bahan pembenaran untuk menguatkan posisi kepentingan. Karena posisi ajaran agama adalah posisi “hati”, yang notabene adalah wahyu dari Sang Maha Adil untuk memberikan ketukan dalam qalbu setiap insan yang fungsinya sebagai rambu dalam kehidupan yang bersifat “Universal”…..jadi sebuah wahyu tidak bisa di klaim sebagai kepemilikan atas satu kelompok, kaum atau golongan tertentu saja ……

Sudah ribuan tahun berlalu…kita selalu memposisikan wahyu Tuhan di posisi yang bukan posisinya sehingga akhirnya seolah tidak sesuai fungsinya, dan pada akhirnya kita tidak bisa menyerap pesan suci Tuhan(wahyu ) tersebut secara bijaksana…semua orang berlomba-lomba mengisi pundi2nya sendiri yang dirasa kosong tanpa melihat memperhatikan “hukum alam” yang seharusnya berjalan “selaras, serasi dan seimbang”…….

Pahala adalah sebuah bukti…tetapi yang sering terlupakan adalah bukti tercipta melalui sebuah “proses” yang saling terkait dan tidak terpisahkan, jadi pilihannya adalah kita sebagai manusia mau hanya melihat “bukti” atau “proses”. Hukum alam yang terjadi dari awal sampai akhir dunia adalah merupakan sebuah “Proses”, kehidupan manusia dari lahir sampai mati juga sebuah proses, jadi bukti bukanlah faktor utama sebuah “penilaian” karena akan terjadi standard ganda dalam hal “nilai” yang terkandung dalam perjalanan tersebut.

“Pahala” selama ini dianggap sebagai barang yang sangat berharga padahal pahala tidak bisa dilepaskan dari ” Ikhlas”, karena tanpa ini tidak akan tercipta pahala justru dosa yag bisa tercipta…….dan “ikhlas” itu sendiri merupakan suatu bentuk “kesadaran jiwa” bahwa perjalanan adalah bentuk dikarenakan suatu “sebab”, sedangkan “akibat” merupakan hasil dari sebuah proses perjalanan dari “sebab” itu sendiri…disinilah yang membutuhkan penglihatan sesuatu yang tidak terlihat (tersirat) yang berarti kita sudah mulai harus jeli dan teliti bahwasannya kadangkala “apa yang terlihat bukanlah sesuatu yang sebenarnya terjadi seperti kelihatannya”, begitupun yang kita dengar, kita rasa, kita kecap, dll.

Manusia yang seumur hidupnya hanya mengejar dan mengumpulkan pahala justru seperti pedagang…yang berbicara untuk rugi pada Tuhan, jadi seandainya Tuhan tidak memberikan keuntungan yang pasti, maka Tuhanpun dianggap tidak berguna ………… dan pahala yang sebenarnya adalah di “Kedalaman Jiwa” kita, sehingga kalo kita jauh-jauh mencari pahala di luar diri maka justru bukan pahala yang kita temui malah mungkin sudah pintu gerbang neraka yang terbuka untuk kita…

Di dalam diri mencari Diri, tuk menggapai cinta Ilahi

Andai setiap hari adalah Fitri, tiada nafsu mengusai Diri…..

One Comment Add yours

  1. AW mengatakan:

    ya, saya juga suka muncul pikiran nggak baik/usil, sebenarnya yang dimaksud pahala itu apa sesungguhnya. Tak bisa dipungkiri dalam hadist2 Rasulullah juga sering bahkan banyak sekali beliau saw mengatakan pahala ini, pahala itu dsb,.. dsb ,…

    Kira2 yg dimaksud belau saw itu apa ya pak ….?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s