Pandawa …..atau…..Kurawa, sebuah Perjalanan Kehidupan

Kisah Baratha Yudha adalah sebuah gambaran sebuah lukisan realita kehidupan sehari-hari, bagaimana kita memerankan peran yang seharusnya kita mainkan dengan baik…..tapi tidak banyak dari kita yang mencoba memahami apa Pesan yang di sampaikan di balik kisah tersebut. Kebanyakan hanya melihat bahwa Pandawa adalah wakil dari kebaikan dan Kurawa adalah wakil dari keburukan…….kita melupakan bahwa ada sebuah proses yang di lalui Dan terjadi sebelum munculnya Pandawa Dan Kurawa ……

Mungkin pernah kita dengar tentang bibit, bobot, bebet, DNA …..ini semua adalah sebuah awalan unsur kehidupan dan menjadi sebuah proses perkembangan dari setiap manusia yang mengalami penurunan sifat dalam diri dari mulai dari manusia pertama sampai kita sekarang ini, bahkan sampai anak cucu kita nanti ….. seperti kata pepatah “ buah jatuh nggaka akan jauh dari pohonnya “ …

Kembali pada Perang baratha yudha ….. ada 2 pihak disini yang berseteru, pandawa dan kurawa, dan dalam pemahaman khalayak banyak, sudah ada gambaran terhadap masing-masing baik pandawa dan kurawa, tetapi pertanyaannya apakah betulkah Pandawa mewakili kebaikan …??? dan apakah betul bahwa Kurawa mewakili kejahatan …..???

Pertama kali kita harus menyadari bahwa pada dasarnya, manusia semua tidak bisa lepas dari dosa asal, yaitu dosa yang memang dititipkan berupa nafsu yang di titipkan pada kita begitu kita menjalani kehidupan di bumi ini yaitu ;

1. Nafsu Amarah
Kuat/besarnya keinginan kepada badan lahir dan badan batin serta kebutuhannya. Jiwa yang terpengaruh tunduk kepada kelezatan syahwat akan menarik hati ke dalam lembah kebodohan dan kehinaan, ini merupakan dimensi kelicikan, sumber perilaku moral yang tercela, otak selalu berfikir jahat, buahnya adalah sifat-sifat yang buruk diantaranya keras kepala, suka mencela, pendendam, mudah tersinggung dan mudah marah. Suka sekali dihormati, benci, cemburu, ujub, ria takabur dll.

2. Nafsu Lawamah
Cahaya yang terkadang hidup dan terkadang mati di dalam lubuk hati manusia, suatu saat berbuat kejelekan (maksiat) di saat lain ia menyadari perbuatannya dan menyesal, dan saat lain ia mengulanginya lagi.Kondisi ini merupakan sumber penyesalan, ia sebagai penggerak hawa nafsu. Di antara sifat-sifatnya adalah suka makan enak dan banyak, rakus, serakah, korup,pelit,mempunyai ambisi kekuasaan yang sangat besar dan suka memperkaya diri.

3. Nafsu Sufiyah/ Sawiyah
Cahaya yang sangat lemah/kondisi hati yang remang-remang, sudah dapat dipastikan bahwa ia tidak dapat lagi membedakan mana yang baik dan jelek, benar atau salah, seluruh kehidupannya hanya ditujukan kepada dunia saja, ia lupa bahwa ada kehidupan lain yaitu kehidupan yang kekal (akhirat), Cita-citanya hanya pada kenikmatan yang bersifat semu dan sementara.Ciri-cirinya adalah suka memuji diri sendiri, memperindah diri, suka mencampuri urusan orang lain, senang bila orang lain celaka, perayu, selalu merintangi jalan menuju kebaikan, dan senang mendukung pada perbuatan yang buruk (maksiat).

4. Nafsu Muthmainah

Jiwa yang menerangi hati dengan cahaya Nya yang murni dan terang benderang, sehingga hati terlepas dari sifat-sifat yang tercela dan dapat bertahan pada tingkat kesempurnaanya dan apabila keadaan ini mengekal dimana badan lahir dan badan batin terisi energi yang dipancarkan oleh Sang Ruh, maka seluruh badannya akan terbawa kepada kebenaran. Dalam kondisi ini orang jawa menyebutnya kondisi SUWUNG.

5. Nafsu Mulhalamah

Pada tingkat ini setelah hati bersih dari pengaruh nafsu dan pengetahuan yang sudah diprogram (Ilmu Laduni) oleh TUHAN kedalam Ruh sudah aktif, dimana sifat-sifat Ketuhanan yang disandangnya merupakan kebalikan dari pada sifat-sifat nafsu. Ruh merupakan sumber dari segala sumber kebaikan sebagai pakaian yang disandang oleh manusia seperti sifat sabar, tawakal, tawadhu, syukur dll.

6. Nafsu Rodhiyah

Jiwa yang selalu rela terhadap Tuhannya, ia terkondisi di dalam kelembutan, ketenangan, kesejahteraan dalam berbagai keadaan dan merasa puas atas nikmat dengan keadaan apa adanya.

7. Nafsu Mardhiyah

Jiwa yang diridhoi oleh Tuhannya, tetapi dilahirkan (dibuktikan)keridhoan Tuhan itu sebagai bukti kepadanya berupa kemuliaan, ia dalam kondisi selalu ingat kepada Tuhannya. Dalam tingkat ini manusia meletakkan fikirnya di atas jalan mendekati Makrifat kepada Tuhannya, ia mengenal Tuhannya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.Lahirlah sifat Tuhannya kepadanya dalam sikap dan perbuatannya.

  1. Nafsu Kamilah

Jiwa yang sudah sampai pada kesempurnaanya dalam bentuk dan karakteristiknya, ia meningkat dalam kesempurnaanya.Jiwa yang sudah dianggap cakap untuk kembali kepada Tuhannya, pekerjaannya memberi mamfaat kepada orang lain dan menyempurnakan amal shalihnya. Maka manusia yang berjiwa inilah yang berhak memakai gelar Mursyid dan Mukamil. Kedudukanya adalah pada tingkat Tajali Asma serta sifat dan kondisinya Baqabillah, pergi kepada Tuhan, kembali dari pada Tuhan kepada Tuhan, tidak ada tempat/media lain selain Tuhan, Tiada memiliki ilmu melainkan Tuhan langsung pengendalinya, ia fana pada Tuhan.(Manunggaling Kawulo Kelawan Gusti).

Ini merupakan anugerah dari Sang Maha Sempurna, Sang Maha Pencipta…….bahwasannya, Dia menginginkan kita sebagai manusia ciptaanNya yang paling sempurna dapat mengelola sebuah keseimbangan sehingga menimbulkan sebuah keselarasan dan keserasian, yang akan membuktikan bahwa segala dorongan nafs pun sebenarnya adalah sebagai bentuk kebaikan yang terbalut ketidaksadaran, begitupun sebaliknya bahwa sebenarnya nurani juga merupakan sebuah bentuk kesucian yang tidak berguna bila belum di temukan……..inilah kehebatan Yang Maha, dengan menciptakan dalam satu wadah ada 3 karakter yang berbeda……yang pertama adalah wahdahnya Manusia, yang kedua adalah karakter kebaikan ( malaikat ) yang bertempat di Hati dalam dan disebut Nurani, yang ketiga adalah karakter keburukan ( syaitan ) yang bertempat di Kepala dan di sebut Nafsu………Kenapa dari jaman ke jaman membasmi keburukan dan menemukan kebaikan begitu sulit ??? karena itulah jawabannya……bagaimana ternyata dari nafs ( pikiran ) terciptalah sebuah jasad yang berasal dari bersatunya darah, yang berasal dari semua yang kita makan, minum dan diolah oleh tubuh, dan menjadi mani, dan setelah bersatunya darah pada bulan keempat hadirlah ruh suci yang membuat jasad menjadi hidup …..

Dalam Baratha Yudha adalah sebuah gambaran tentang bagaimana penjelasan di atas lebih di terjemahkan dalam bentuk cerita, bahwa awal dari kurawa adalah ayahandanya Destarata adalah seorang Resi yang tergoda oleh seorang wanita …… dan akhirnya berbuah Kurawa, sedangkan Pandawa adalah putra Pandu yang merupakan Raja tetapi akhirnya mau mengabdikan dirinya untuk menjadi pendeta ( demi kebaikan meninggalkan semua keduniawian )……..dalam Kurawatetapi Duryudana sebagai yang paling tua justru menganggap saudara seorang Adipati Karna yang nota bene adalah saudara Pandawa tetapi pandawa sendiri tidak mau menerimanya….?!?! sehingga Karna dalam perang baratha yudha akhirnya menjadi lawan tangguh bagi Pandawa karena berpihak pada Kurawa. Bagaimana Bisma adalah seorang paman dari Pandawa dan Kurawa yang mempunyai sikap netral dan serba salah, akhirnya harus mengorbankan jiwanya dengan tewas di tangan srikandi ( yang merupakan perwujudan karma bisma yang mengecewakan seorang perempuan yang sudah berkorban jiwa raga untuknya tetapi malah di kecewakannya ), Raden Harya Suman atau lebih di kenal dengan Sengkuni, adalah tokoh inti dari baratha yudha…….karena dialah sebenarnya yang membuka tabir kebaikan dan keburukan dari masing-masing baik pandawa maupun kurawa, bagaimana dia selalu membantu kurawa dan menjerumuskan pandawa, padahal sama-sama adalah keponakan semua pandawa di suruh untuk ke hutan, ke laut yang bertujuan untuk membunuh arjuna, bima, di karangknya cerita bahwasannya ada senjata hebat yang harus diambil arjuna dan bima, padahal itu hanya karangan sengkuni saja, tetapi hikmah yang di dapat adalah, setelah arjuna dan bima datangi tempat-tempat yang seharusnya membunuh mereka malah, betul-betul disitu mendapat apa yang di ceritakan sehingga sengkuni sendiri terheran-heran, karena sebenarnya itu semua adalah cerita karangannya saja, tetapi malah menjadi kenyataan. Pandawa pada waktu terlena dan terpancing diajak berjudi oleh kurawa dan akhirnya kalah, bahkan Isterinya yang akhirnya menjadi bahan taruhan dan ternyata kalah sehingga isteri Pandawa di permalukan di depan umum oleh para kurawa, walaupun tidak bisa karena ketulusan dan kebaikan Drupadi. Karakter Sengkuni dalam pewayangan Jawa digambarkan sebagai seorang penghasut yang memicu perang besar sesama keturunan dinasti kuru, yang terkenal dengan nama Bharata Yuda.

Siapa saja yang dihasut Sengkuni? Pertama, adalah Destrata/Dhritarashtra, putra tertua dinasti kuru saat itu, yang seharusnya dinobatkan menjadi raja, tetapi tidak jadi, karena memiliki cacat fisik, yaitu kebutaan/tidak bisa melihat.

Sengkuni kemudian menghasut Destarata, mengatakan bahwa seharusnya ialah (Destarata) yang layak jadi raja, karena dia merupakan putra tertua dinasti Kuru. Perpecahan pun terjadi antar saudara, antara Destarata dan Pandu.

Orang kedua, yang dihasut oleh Sengkuni adalah Duryodana, yang merupakan Putra tertua Destarata dan istrinya, Gandhari. Dari kecil, Sengkuni menanamkan kebencian pada Duryodana terhadap keturunan Pandu. Beragam tipu daya dilakukan oleh Duryodana dan saudara-saudaranya untuk melenyapkan para putra Pandu, yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

Tapi sebenarnya, dari semua tindakan “negatif” Sengkuni ini, mungkin hanya segelintir orang Indonesia umumnya, atau Jawa khususnya, yang paham mengapa ia (Sengkuni) berbuat seperti ini. Ini semua dikarenakan ketidaklengkapan penceritaan kisah Mahabharata oleh para narator pewayangan Jawa. Sehingga rakyat kebanyakan hanya paham versi hitam putih dari Mahabharata, padahal dalam versi asli India, boleh dikata, semua karakter tidak sepenuhnya baik, begitu pula sebaliknya, tidak ada karakter yang seratus persen jahat. Semua abu-abu sifatnya, seperti halnya semua manusia.

Sengkuni atau Shakuni, adalah seorang Pangeran Gandhara (sekarang Afghanistan), Kerajaan Gandhara pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Hastinapura, dalam sebuah operasi militer. Pasca penaklukkan ini, seluruh laki-laki Gandhara dipenjara, dan mereka hanya diberi makan sebutir beras perhari, untuk tiap-tiap orangnya. Karena semua laki-laki Gandhara yang ditahan menyepakati bahwa satu orang harus hidup untuk membalaskan dendam mereka, maka seluruh butir beras yang mereka terima diberikan pada Sengkuni. Tujuannya adalah supaya Sengkuni menuntaskan dendam rakyat Gandhara terhadap Hastinapura.

Ayah Sengkuni, yaitu Raja Subala akhirnya mengaku takluk pada Hastinapura, hal yang kemudian membuat seluruh laki-laki yang dipenjara dan masih hidup, dibebaskan. Walaupun demikian, dendam Gandhara terhadap Hastinapura belumlah tuntas. Sengkuni sebagai sang pembalas dendam tersebut, juga merasa dihinakan oleh lamaran pernikahan Hastinapura terhadap adiknya, Gandhari. Ia merasa terhina, karena yang melamar adalah kerajaan yang pernah menyengsarakan dan membunuh rakyatnya. Karena itulah Sengkuni bersumpah untuk menghancurkan klan Bhisma (tetua Hastinapura), atau wangsa kuru, yang memerintah Hastinapura. Karena tidak punya pasukan yang cukup kuat untuk menaklukkan balatentara Hastinapura, maka Sengkuni memilih menghancurkan dengan operasi senyap.

Perang Bharata Yuda, sebenarnya adalah hasil dari operasi senyap Sengkuni, untuk menghancurkan wangsa kuru yang dibencinya. Perang saudara ini kemudian menimbulkan banyak korban jiwa dari wangsa kuru. Walaupun Sengkuni akhirnya terbunuh, tetapi tujuannya untuk menghancurkan wangsa Kuru, hampir sepenuhnya berhasil. Praktis hanya segelintir wangsa Kuru yang bertahan hidup pasca perang Bharata Yuda.

Bagaimana dengan Kresna? Dalam plot kisah Mahabharata, karakter Kresna ini adalah titisan Dewa Wisnu. Tugasnya adalah untuk memerangi “angkara murka/kejahatan”, seperti halnya Sengkuni, Kresna atau Krishna juga berasal dari bangsa yang tertindas. Perbedaannya kalau bangsa, Sengkuni (Gandhara) dijajah bangsa luar, sementara bangsa Kresna, yaitu wangsa Yadawa, ditindas oleh Tiran yang berasal dari bangsa sendiri, seperti Indonesia di bawah kekuasaan diktator Soeharto dan orde barunya.

Tiran yang menindas wangsa Yadawa itu adalah Kansa, Kansa ini merupakan saudara laki-laki dari ibu, Kresna, yang bernama Dewaki. Dewaki ini adalah putri dari Raja Ugrasena yang merupakan raja Kerajaan wangsa Yadawa, yaitu Mathura (Mandura). Kansa, kemudian mengkudeta ayahnya sendiri, dan mengangkat dirinya sebagai raja Kerajaan Mathura. Karena takut akan prediksi bahwa ia (Kansa) akan dibunuh oleh keturunan ke-8, Dewaki dan suaminya, Wasudewa, maka Kansa memenjarakan Dewaki dan Wasudewa. Selanjutnya, Kansa membunuhi enam anak Dewaki dan Wasudewa, sementara anak yang ketujuh, secara gaib ditransfer ke rahim Rohini, istri pertama, Wasudewa. Anak yang ketujuh ini kemudian lahir dengan nama Balarama (Baladewa). Kresna, yang merupakan keturunan ke-8, kemudian diselundupkan oleh ayahnya, Wasudewa, ke luar sel. Kresna kemudian dibesarkan oleh pasangan suami istri, Nanda dan Yasoda.

Setelah dewasa, duet Kresna dan Balarama ini kemudian berhasil menghabisi nyawa Kansa, dan mengembalikan tahta kerajaan Mathura pada raja sebelumnya, yaitu Ugrasena. Dalam perkembangan berikutnya, Kresna kemudian mendirikan kerajaan baru yang bernama Dwaraka, ia juga membawa serta wangsa Yadawa ke kerajaan baru tersebut.

Kresna memiliki kedekatan dengan para pandawa, karena ia (Kresna) adalah sepupu mereka (para pandawa). Sepanjang persahabatannya dengan para pandawa ini, Kresna melakukan tindakan yang kurang lebih sama dengan Sengkuni.

Sebagai seorang titisan Dewa Wisnu, Kresna dikisahkan sudah paham bahwa perang besar akan terjadi. Oleh karena itu, sikapnya kemudian bukanlah mencegah perang itu, sebaliknya ia berusaha untuk menyingkirkan musuh-musuh para pandawa, dengan operasi senyap maupun dengan tipu daya terang-terangan.

Salah satu contoh tipu daya Kresna, adalah usahanya untuk memperdayai Guru Dorna, dengan cara membuat Yudhistira, karakter terjujur dalam kisah Mahabharata, untuk berbohong pada gurunya ini. Jadi ketika perang tengah memanas, dan pihak kurawa yang dipimpin oleh Dorna sebagai panglima perang, berhasil memorak-morandakan pasukan pandawa.

Dorna dengan kesaktiannya, memang tak mungkin dikalahkan, bahkan oleh Arjuna, sang jago panah sekalipun. Kresna kemudian membuat skenario kebohongan, Bima disuruh membunuh seekor gajah yang bernama sama dengan anak Dorna, Aswatama. Kemudian setelah membunuh gajah tersebut Bima berteriak keras-keras pada Dorna bahwa ia telah membunuh Aswatama. Karena tidak mau percaya begitu saja, maka Dorna bertanya kepada orang yang dia anggap paling jujur, yaitu Yudhistira, putra tertua Pandu. Yudhistira kemudian dengan sangat berat hati, terpaksa berbohong pada gurunya itu. Dorna yang sangat mempercayai kata-kata Yudhistira, kemudian kehilangan semangat, dan akhirnya dibunuh dengan mudah oleh Drestajumena.

Tidak hanya itu saja, pada perang hari terakhir, yaitu duel gada antara Bima dan Duryodana. Duryodana yang dianugerahi ilmu kebal oleh Gandhari, ibunya, ternyata tidak mempan dipukuli berkali-kali oleh Bima dengan gadanya. Gandhari yang bersumpah untuk menutup matanya sebagai rasa solidaritas terhadap suaminya, dianugerahi kesaktian oleh Dewa Siwa. Dengan matanya, Gandhari bisa membuat semua bagian tubuh yang dipandanginya menjadi kebal dari berbagai senjata. Hanya saja, Duryodana yang malu bagian vitalnya dipandang oleh ibunya sendiri, ternyata menutupi area sekitar pahanya.

Karena itu, bagian sekitar paha tersebut, menjadi tidak kebal.

Akan tetapi, berdasarkan etika perang gada, bagian paha tersebut, tidak boleh dipukuli. Barang siapa yang memukuli bagian itu, maka dianggap kalah. Kresna yang memahami hal itu, kemudian membuat isyarat supaya Bima memukuli paha Duryodana dengan gada, sebagai perwujudan sumpahnya (Bima) untuk mematahkan paha Duryodana. Balarama, kakak Kresna, yang berjiwa ksatria, tidak terima dan marah besar melihat hal itu. Baginya kemenangan Bima tidak sah, karena melanggar etika perang gada.

Usaha Kresna yang paling terkenal, untuk merealisasikan perang Bharata Yuda, adalah “petuah”nya pada Arjuna, yang tengah galau, karena tidak mau memerangi saudara-saudaranya sendiri. Petuah Kresna terhadap Arjuna, sebelum perang besar ini, terkenal dengan nama Bhagawat Gita. Isi petuah itu intinya adalah supaya Arjuna tidak ragu melakukan tugasnya, untuk memerangi kubu kurawa.

Kutukan Gandhari, yang melihat bahwa Kresna tidak berusaha mengakhiri perang, membuat Kresna dan wangsa Yadawa musnah dengan cara mengenaskan. Kutukan Gandhari ini merupakan karma bagi semua muslihat dan tipu daya yang dilakukan oleh Kresna. Kresna kemudian meninggal karena terkena panah nyasar seorang pemburu, sementara wangsa Yadawa musnah akibat saling bunuh.

Dalam sebuah cerita, semua karakter digambarkan serba hitam putih. Di satu sisi, digambarkan ada karakter baik tanpa cela, yang walaupun berbuat kesalahan, tetap dipuja karena tujuan dari perbuatannya adalah baik. Di sisi lain, ada karakter jahat, yang selalu digambarkan salah, walaupun dia berperang dengan etika perang yang benar, tetap saja digambarkan salah.

Disinilah gambaran kehidupan yang sebenarnya yang terjadi dari dahulu sampai nanti, itulah sejarah yang akan terus berulang, tinggal bagaimana kita bisa menyikapi segala sesuatu dengan bijaksana dan menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi sesama dan untuk kedamaian dunia ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s